menu bar

Jumat, 28 Maret 2014

Pengaruh Internet Pada Kenakalan Remaja

Pengaruh internet pada remaja ?
Salah satu bisnis yang booming saat ini adalah warung internet (warnet) dan game playstation. Menjamur di sudut kota,  ada di setiap komplek ruko, hingga masuk ke kawasan perumahan. Internet semakin mudah diakses dan semakin murah. Pilihan konten internet juga semakin bervariasi. Saat ini hampir di setiap warnet juga menyediakan game online. Jika dulu room- room di warnet kebanyakan diisi oleh pengguna dewasa, saat ini anak dan remaja, banyak yang menyerbu masuk warnet.

Banyaknya anak dan remaja masuk ke bilik-bilik warnet menjadi fenomena baru di dalam dunia anak kita. Mereka hidup dalam generasi Information Technology (IT).  Permainannya mengikuti modernisasi zaman di era IT ini yang ditandai dengan kemudahan mengkases internet. Orang dewasa dan anak dan remaja berbaur di sana. Kemudian lalu sibuk  di dunia maya dan permainan virtual masing-masing hingga berjam-jam lamanya dan kadang terlupa sama kewajibannya.

Banyak anak dan remaja menghabiskan waktu dan uang di warnet hingga berjam-jam lamanya.  Mereka tidak betah tinggal lagi di rumah. Lupa membuat tugas sekolah (PR, red). Bahkan beberapa yang kecanduan, ada yang sampai larut malam, malas pulang. Ada yang sampai berhenti sekolah. Bagi anak yang masih penurut dan patuh sama orangtua, mereka masih bisa diarahkan. Tahu diri dengan kewajiban sebagai anak yang harus menghormati orangtua. Celakanya, ada anak dan remaja yang sudah berani melawan sama orangtua. Kecanduan terhadap permainannya  membuat lupa diri. Keadaan ini diperparah kalau orangtua kurang peduli atau tidak bisa mendidik anaknya.

Selain berpengaruh pada prestasi dan kelanjutan pendidikan anak, dampak lain dari kecanduan game online tersebut adalah munculnya kejahatan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh anak dan remaja. Pertama karena terdesak kebutuhan uang untuk terus bermain di warnet. Kedua, permainannya yang penuh aksi dan tantangan yang secara tidak sengaja mengajarkan anak pandai menirunya.

Saat orangtua tidak mau memberi uang maka di saat tersebut timbul niat jahat untuk mencuri. Biasanya dilakukan tidak sendiri, tetapi mengajak anak lain yang juga tidak punya uang. Mereka membentuk kelompok atau komunitas sendiri. Sasarannya macam-macam, ada yang mencuri sepeda motor, helm, tabung gas, kios pulsa, sampai kepada ikan lele milik pedagang di pasar. Pokoknya apa yang bisa dijadikan duit agar bisa ke warnet lagi. Beberapa kasus pencurian yang dilakukan anak di Kepri  dilatarbelakangi oleh kedua hal tersebut.

Tidak saja pencurian, kasus pencabulan dengan korban dan pelaku anak juga meningkat seiring dengan kemudahan mengakses internet. Ini disebabkan situs-situs porno yang masih bisa diakses tanpa belum ada pemblokiran. Remaja mudah tergoda dan mempraktekkannya. Salah satu kasus misalnya, operator warnet yang masih remaja beberapa kali mencabuli pacarnya yang masih pelajar di salah satu bilik warnetnya beberapa waktu lalu di Batam.

Saat anak-anak yang berbuat kriminal ditangkap, orangtua mulai bingung dan mencari siapa yang salah. Apakah dia yang tidak pandai mendidik anak atau memang pengaruh lingkungan sangat luar biasa saat ini kepada sianak. Salah satu tudingan dialamatkan kepada pemilik warnet. Mereka menilai kehadiran warnet tersebut memberikan dampak negatif pada anak. Sampai-sampai belakangan yang sering terdengar adalah suara untuk meminta pemerintah membuat Perda soal warnet.

IT Tidak Dapat Dimusuhi

Saat belum ada aturan dari pemerintah, kita tidak bisa menyalahkan pengusaha atau operator warnet. Mereka berbisnis dan akan memajukan usahanya dengan menarik sebanyak-banyaknya pelanggan untuk datang. Yang bisa diharapkan dari mereka hanyalah kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap perlindungan anak.

Harus diakui bahwa warnet di sisi lain juga banyak memberikan hal-hal positif bagi anak dan remaja. Dari internet mereka bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan anak sesuai dengan bakan, minat dan potensinya. Mereka bisa berekreasi di dunia maya dan bisa berkreasi dengan kemajuan yang sudah ada. Tidak bisa kita pungkiri bahwa beberapa remaja dan pemuda Indonesia bisa berprestasi dan mengharumkan Indonesia di kancah dunia dari daya kreasi mereka terhadap IT.

Internet dan IT merupakan kemajuan zaman yang tidak bisa kita hentikan atau kita musuhi. Tidak mungkin bagi orangtua saat ini melarang sama sekali anak-anaknya untuk bermain internet dan game online. Bila dilarang maka selain membuat anak menjadi gaptek, juga ada beberapa hak anak yang kita langgar seperti hak bermain, hak mendapatkan informasi, hak rekreasi, hak berkreasi dan lain sebagainya yang sudah dijamin UU Perlindungan Anak.  Kecuali bila ada bentuk permainan alternatif lain yang digemari anak sehingga hak mereka tidak hilang.

Meminimalisir Dampak Negatif

Kita hidup di zaman yang penuh kemajuan nan mengoda. Godaannya membuat orang lupa. Dampak  yang paling rentan dialami anak dan remaja karena mereka berada dalam kondisi jiwa labil, berfikirnya belum matang dan gampang dipengaruhi. Yang perlu dipikirkan oleh orangtua, pendidik, aktivis anak, masyarakat, pengusaha warnet dan pemerintah adalah mencari solusi bagaimana meminimalisir dampak negatif kehadiran  internet dan game online tersebut.

Bagi orangtua, harus mengawasi, membatasi, mengarahkan sehingga anak mempunyai pemahaman apa yang boleh diakses dan apa yang tidak boleh diakses anak di bilik-bilik warnet. Bila perlu sekali-kali temani anak bermain atau pantau anak bermain. Dimana biasa bermain, sama siapa, dan titip pengawasan anak sama operator warnet. Boleh anak main game online asal jangan sampai kecanduan karena akan merusak, melupakan kewajiban anak yang lain. Batasi waktu  yang diberikan kepada anak.

Bagi guru, memberikan pendidikan dan arahan  tentang bagaimana mengakses internet yang sehat. Selain guru di sekolah, internet juga merupakan sumber referensi berbagai ilmu pengetahuan. Bermain game hanya sekadar menghibur disela tugas sebagai pelajar. Orientasi anak tetap giat belajar menuntut ilmu. Bila saat ini banyak tugas kepada siswa yang mengharuskan anak masuk warnet, maka berikan tugas yang benar-benar memuaskankan rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan. Tidak bisa kita nafikkan, bahwa mencari informasi apa saja sangat gampang dan cepat dengan internet.

Sementara masyarakat bisa memberikan perlindungan kepada anak dengan ikut mengawasi dan memberikan arahan. Jangan sampai ada anak yang berjam-jam hingga larut berada di warnet. Bila ada anak atau remaja yang kedapatan mencuri misalnya, masyarakat jangan main hakim sendiri. Panggil orangtua dan lakukan pengawasan bersama.

Pemilik warnet jangan hanya mencari untung, namun tetap memperhatikan dan memberikan perlindungan pada anak. Kalau perlu asosiasi pengusaha warnet buat aturan sedemikian rupa sehingga bisa membatasi  dampak negatif dari usahanya.  Jangan biarkan anak berjam-jam di warnet hingga kecanduan.

Bagi pemerintah, izin warnet yang diberikan harus disertai dengan pengawasan dan aturan yang diperlukan. Ada edaran untuk membatasi anak-anak bermain di warnet. Bila perlu, saat malam, anak dilarang masuk ke warnet sama sekali. Banyak yang mengusulkan sudah perlunya perda pengaturan warnet. Terlepas dalam bentuk apa, yang penting adalah bagaimana  mengatasi kecanduan anak bermain di warnet dan meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkannya.

Diantara semua itu, PERAN ORANG TUA lah yang paling penting dan dominan. Orangtua merupakan pengasuh dan pendidik utama bagi anak. Keluargalah benteng pertahanan bagi anak dari segala bentuk pengaruh lingkungan, internet dan IT.
                                                                                  .***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar