Sebelum membahas itu, ada baiknya kita tahu dulu ciri-ciri anak yang umumnya berisiko menjadi korban bullying seperti:
1. Anak yang secara fisik terlihat berbeda dari teman-teman sebayanya, misalnya anak yang sangat gemuk atau sangat kurus.
2. Anak yang terlihat lemah dan tidak percaya diri.
3. Anak yang suka menyendiri dan tidak mempunyai banyak teman.
4.
Anak yang dianggap tidak gaul dan aneh oleh teman sebayanya misalnya
dilihat dari model rambut, cara berpakaian atau gaya bicaranya.
Namun, meskipun kita
memiliki salah satu ciri di atas, bukan berarti nantinya kita pasti
di-bully. Nah, untuk mencegahnya, ikuti beberapa tips berikut:
Be confident dan cari teman sebanyak-banyaknya
Meskipun kata-kata ini
sering diungkapkan dimana-mana mulai dari buku, majalah, iklan bahkan
sering bertengger di buku harian, tapi pada kenyataannya susah sekali
dipraktikkan, apalagi bagi kita yang suka mengaku kurang pede (percaya
diri). Mengapa menjadi percaya diri itu penting? Orang yang percaya diri
mampu memancarkan energi positif kepada orang-orang di sekitarnya.
Energi positif akan
memberikan pembawaan diri yang positif, yang pada akhirnya akan mampu
meningkatkan harga diri, motivasi diri dan potensi diri kita. Pastinya,
ini akan membuat kita semakin disukai oleh teman-teman di sekolah baru
dan bullying pun enggan mampir. Agar bisa lebih pede, niatkan diri bahwa
kita benar-benar ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik,
singkirkan segala pola pikir negatif yang selama ini selalu bergelayut
misalnya “mana mungkin aku mampu?” atau “mustahil aku melakukannya” dan
ganti menjadi “aku bisa!”, “aku mampu selama aku mau mencobanya!”.
Kalau masih belum
berhasil dan pikiran negatif masih setia menempel di otak, tuliskan
kalimat-kalimat positif tersebut di depan cermin atau di tempat yang
mudah terlihat, sehingga dengan membacanya di setiap kesempatan maka
pikiran negatif akan tersingkir dengan mudah. Lagipula jika tulisan itu
dibaca dan diingat berulang-ulang, pikiran bawah sadar kita akan
merespon dan secara otomatis akan membentuk pola perilaku sesuai dengan
yang diterimanya.
Sekarang saatnya
memperbanyak teman. Caranya ajak mereka kenalan terlebih dulu. Jika kita
masih terlalu malu untuk melakukannya, mulailah melatih diri di depan
cermin. Bayangkan orang di depan cermin adalah teman yang ingin diajak
berkenalan dan cobalah untuk mengobrol santai. Lakukan latihan ini
berulang-ulang agar kita tidak canggung saat berkenalan nantinya.
Terakhir dan yang
tidak kalah penting, jika diantara kita masih ada yang suka berjalan
dengan kepala tertunduk dan terkesan buru-buru, mulai sekarang
berlatihlah untuk berjalan dengan tenang sembari mata memandang lurus ke
depan. Ini demi menunjukkan bahwa kalian percaya diri. Ingat, seperti
kata iklan “kesan pertama begitu berharga”, makanya sikap yang kita
tampilkan pertama kali sangat menentukan kesan teman-teman terhadap
dirimu nantinya. Jadi, biar di hari pertama langsung dapat teman yang
banyak, tunjukkan bahwa kita percaya diri. Memang semua tidak melulu
diukur dari penampilan, sikap dan prestasi pun turut diperhitungkan.
Tapi kalau penampilannya oke, sikapnya baik ditambah lagi prestasinya
bagus, siapa sih yang nggak mau berteman denganmu?
Bertemanlah dengan siapa saja
Seperti yang
diungkapkan di atas, anak yang suka menyendiri rentan sekali menjadi
korban bullying. Untuk mencegah hal itu terjadi, carilah teman
sebanyak-banyaknya dan bertemanlah dengan siapa saja, baik itu si kaya,
si miskin, si pintar, si gemuk atau siapa saja. Perlakukan mereka secara
baik, dengan begitu mereka pun akan memperlakukan kita dengan baik
pula. Kalau sesekali kita ingin sendiri bagaimana? It’s ok, nggak ada
yang melarang kok, karena ada kalanya kita memang butuh privasi, jadi
tidak harus setiap hari setiap saat kita terus dikelilingi teman-teman.
Bersikap asertif
Sikap asertif mengacu
pada kemampuan untuk mengungkapkan pikiran atau pendapat, baik yang
bersifat positif maupun negatif, tanpa merugikan diri sendiri atau orang
lain. Sehingga apabila suatu saat ada teman yang memperlakukan kita
dengan tidak baik, bahkan mulai mengarah ke tindakan bullying, sikap
asertif ini sangat diperlukan. Katakan “tidak” jika memang hal itu
dirasa sangat mengganggu. Untuk dapat bersikap asertif ini pun
diperlukan rasa percaya diri yang tinggi.
Kenali potensi diri
Anak yang di-bully
biasanya merasa dirinya lemah dan tidak mampu melakukan apa-apa. Mereka
selalu merasa tidak berguna dan tidak mempunyai kelebihan apapun,
padahal tidak ada satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak
mempunyai kegunaan atau kelebihan, bahkan organisme bersel satu pun
mempunyai manfaat tersendiri. Jadi, jangan berkecil hati, temukan
potensi dan kelebihan yang tersembunyi di dalam diri. Dengan menyadari
potensi dalam diri, kita akan merasa diri ini berharga, tidak layak
untuk dijadikan bulan-bulanan dan kita pun bisa segera bangkit melawan
segala tindakan bullying.
Ikuti kegiatan ekstrakurikuler
Mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambah
kepercayaan diri dan menghindar dari tindakan bullying. Pilih kegiatan
ekstrakurikuler yang kamu minati. Selain mampu menjadi hiburan, kegiatan
ini juga memungkinkan kita menambah banyak teman dengan minat yang
sama, sehingga kalau ngobrol otomatis bisa nyambung. Tapi tentu saja
kita harus pintar membagi waktu agar belajar tidak terbengkalai.
Oke, sekarang
katakanlah kita aman dari bullying, tapi suatu saat kamu menyaksikan
salah satu teman sekelas di-bully. Apa yang harus kamu lakukan?
Menolongnya seketika? Menolongnya adalah tindakan yang tepat, namun
jangan gegabah, perhatikan apakah saat itu situasinya aman atau tidak
untuk memberikan pertolongan. Banyak kasus yang terjadi karena ingin
menolong temannya yang di-bully, sang penolong tersebut malah menjadi
sasaran korban bullying berikutnya dan beberapa yang tidak tahan memilih
mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lantas bagaimana?
Umumnya pelaku
bullying suka “menyiksa” korbannya di depan orang banyak dan paling suka
jika memperoleh perhatian lebih, karena memang mereka melakukan itu
untuk mencari perhatian dan menunjukkan bahwa ia berkuasa. Jika hal itu
terjadi, jangan memberikan perhatian yang diinginkan pelaku. Tunjukkan
bahwa bullying sama sekali tidak keren dan tidak menyenangkan. Jika hal
ini masih terus berlanjut dan rasanya mulai berlebihan, mintalah bantuan
guru atau orang dewasa yang kamu percaya untuk menghentikannya pada
saat itu juga.
Korban bullying
biasanya akan merasa depresi dan berusaha semakin menjauhkan diri dari
keramaian, agar dia tidak semakin larut dalam depresi dan melakukan
tindakan yang berbahaya, salah satu cara bagimu untuk menolongnya adalah
mendekatinya dan memberikan perhatian. Bisa pula kita mengajaknya
bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler, supaya dia juga memperoleh
kesempatan untuk bersosialisasi dan mengembangkan diri. Tak lupa, ajak
pula ia untuk berkonsultasi dengan guru, orang tua atau orang dewasa
yang mereka percayai, agar dapat sedikit meringankan bebannya.
Orang tua juga memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya bullying. Bagaimana caranya?
Orang tua hendaknya
memberikan pemahaman pada anak tentang segala bentuk tindakan bullying,
baik yang skala besar maupun kecil disertai cara untuk
mengantisipasinya. Dengan pemahaman ini, anak akan mampu mengenali
bentuk perilaku bullying, sehingga mereka bisa berusaha menghindarinya.
Sesibuk apapun orang
tua hendaknya meluangkan waktu paling tidak 15 menit sehari untuk
berkomunikasi dengan anak tentang segala hal yang berkaitan dengan
kesehariannya, sekolahnya, teman-temannya dan perasaannya.
Mengajarkan anak untuk
berempati. Dengan begini, anak akan lebih mengerti perasaan orang lain
sehingga kemungkinan anak akan menyakiti atau mem-bully anak lain pun
kecil.
Biarkan mereka
berkreasi. Banyak orang tua yang menentang anaknya mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler. Orang tua beranggapan, kegiatan seperti ini hanya
membuang-buang waktu dan membuat kegiatan belajar menjadi terbengkalai,
padahal kegiatan ini sangat berguna untuk meningkatkan bakat dan minat
anak, ditambah lagi mampu meningkatkan kemampuan bersosialisasi,
tentunya dengan catatan anak harus bisa membagi waktunya dengan baik dan
berjanji bahwa kegiatan ini tidak akan mengganggu prestasi belajarnya.
Sekecil apapun
tindakan bullying sama sekali tidak bisa dianggap remeh dan dibiarkan
terus mengakar menjadi budaya yang berkembang di kalangan remaja. Kita
mempunyai kemampuan untuk mencegah dan menghentikannya. So, tunggu apa
lagi? Stop Bullying!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar