menu bar

Rabu, 16 April 2014

Cara Agar Tidak Di Bully Oleh Teman !!

Tips Agar Tidak di bully oleh TemanKhawatir karena belum tentu bertemu lagi dengan teman lama, terus kalau teman sekelasnya nggak seru gimana? Parahnya lagi, kalau sampai jadi korban bullying. Hiii, membayangkannya saja sudah ngeri. Ada nggak sih cara agar kita tidak di-bully di sekolah baru?
Sebelum membahas itu, ada baiknya kita tahu dulu ciri-ciri anak yang umumnya berisiko menjadi korban bullying seperti:
1. Anak yang secara fisik terlihat berbeda dari teman-teman sebayanya, misalnya anak yang sangat gemuk atau sangat kurus.
2. Anak yang terlihat lemah dan tidak percaya diri.
3. Anak yang suka menyendiri dan tidak mempunyai banyak teman.
4. Anak yang dianggap tidak gaul dan aneh oleh teman sebayanya misalnya dilihat dari model rambut, cara berpakaian atau gaya bicaranya.
Namun, meskipun kita memiliki salah satu ciri di atas, bukan berarti nantinya kita pasti di-bully. Nah, untuk mencegahnya, ikuti beberapa tips berikut:

Be confident dan cari teman sebanyak-banyaknya
Meskipun kata-kata ini sering diungkapkan dimana-mana mulai dari buku, majalah, iklan bahkan sering bertengger di buku harian, tapi pada kenyataannya susah sekali dipraktikkan, apalagi bagi kita yang suka mengaku kurang pede (percaya diri). Mengapa menjadi percaya diri itu penting? Orang yang percaya diri mampu memancarkan energi positif kepada orang-orang di sekitarnya.
Energi positif akan memberikan pembawaan diri yang positif, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan harga diri, motivasi diri dan potensi diri kita. Pastinya, ini akan membuat kita semakin disukai oleh teman-teman di sekolah baru dan bullying pun enggan mampir. Agar bisa lebih pede, niatkan diri bahwa kita benar-benar ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, singkirkan segala pola pikir negatif yang selama ini selalu bergelayut misalnya “mana mungkin aku mampu?” atau “mustahil aku melakukannya” dan ganti menjadi “aku bisa!”, “aku mampu selama aku mau mencobanya!”.
Kalau masih belum berhasil dan pikiran negatif masih setia menempel di otak, tuliskan kalimat-kalimat positif tersebut di depan cermin atau di tempat yang mudah terlihat, sehingga dengan membacanya di setiap kesempatan maka pikiran negatif akan tersingkir dengan mudah. Lagipula jika tulisan itu dibaca dan diingat berulang-ulang, pikiran bawah sadar kita akan merespon dan secara otomatis akan membentuk pola perilaku sesuai dengan yang diterimanya.
Sekarang saatnya memperbanyak teman. Caranya ajak mereka kenalan terlebih dulu. Jika kita masih terlalu malu untuk melakukannya, mulailah melatih diri di depan cermin. Bayangkan orang di depan cermin adalah teman yang ingin diajak berkenalan dan cobalah untuk mengobrol santai. Lakukan latihan ini berulang-ulang agar kita tidak canggung saat berkenalan nantinya.
Terakhir dan yang tidak kalah penting, jika diantara kita masih ada yang suka berjalan dengan kepala tertunduk dan terkesan buru-buru, mulai sekarang berlatihlah untuk berjalan dengan tenang sembari mata memandang lurus ke depan. Ini demi menunjukkan bahwa kalian percaya diri. Ingat, seperti kata iklan “kesan pertama begitu berharga”, makanya sikap yang kita tampilkan pertama kali sangat menentukan kesan teman-teman terhadap dirimu nantinya. Jadi, biar di hari pertama langsung dapat teman yang banyak, tunjukkan bahwa kita percaya diri. Memang semua tidak melulu diukur dari penampilan, sikap dan prestasi pun turut diperhitungkan. Tapi kalau penampilannya oke, sikapnya baik ditambah lagi prestasinya bagus, siapa sih yang nggak mau berteman denganmu?

Bertemanlah dengan siapa saja
Seperti yang diungkapkan di atas, anak yang suka menyendiri rentan sekali menjadi korban bullying. Untuk mencegah hal itu terjadi, carilah teman sebanyak-banyaknya dan bertemanlah dengan siapa saja, baik itu si kaya, si miskin, si pintar, si gemuk atau siapa saja. Perlakukan mereka secara baik, dengan begitu mereka pun akan memperlakukan kita dengan baik pula. Kalau sesekali kita ingin sendiri bagaimana? It’s ok, nggak ada yang melarang kok, karena ada kalanya kita memang butuh privasi, jadi tidak harus setiap hari setiap saat kita terus dikelilingi teman-teman.

Bersikap asertif
Sikap asertif mengacu pada kemampuan untuk mengungkapkan pikiran atau pendapat, baik yang bersifat positif maupun negatif, tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain. Sehingga apabila suatu saat ada teman yang memperlakukan kita dengan tidak baik, bahkan mulai mengarah ke tindakan bullying, sikap asertif ini sangat diperlukan. Katakan “tidak” jika memang hal itu dirasa sangat mengganggu. Untuk dapat bersikap asertif ini pun diperlukan rasa percaya diri yang tinggi.

Kenali potensi diri
Anak yang di-bully biasanya merasa dirinya lemah dan tidak mampu melakukan apa-apa. Mereka selalu merasa tidak berguna dan tidak mempunyai kelebihan apapun, padahal tidak ada satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak mempunyai kegunaan atau kelebihan, bahkan organisme bersel satu pun mempunyai manfaat tersendiri. Jadi, jangan berkecil hati, temukan potensi dan kelebihan yang tersembunyi di dalam diri. Dengan menyadari potensi dalam diri, kita akan merasa diri ini berharga, tidak layak untuk dijadikan bulan-bulanan dan kita pun bisa segera bangkit melawan segala tindakan bullying.

Ikuti kegiatan ekstrakurikuler
Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambah kepercayaan diri dan menghindar dari tindakan bullying. Pilih kegiatan ekstrakurikuler yang kamu minati. Selain mampu menjadi hiburan, kegiatan ini juga memungkinkan kita menambah banyak teman dengan minat yang sama, sehingga kalau ngobrol otomatis bisa nyambung. Tapi tentu saja kita harus pintar membagi waktu agar belajar tidak terbengkalai.

Oke, sekarang katakanlah kita aman dari bullying, tapi suatu saat kamu menyaksikan salah satu teman sekelas di-bully. Apa yang harus kamu lakukan? Menolongnya seketika? Menolongnya adalah tindakan yang tepat, namun jangan gegabah, perhatikan apakah saat itu situasinya aman atau tidak untuk memberikan pertolongan. Banyak kasus yang terjadi karena ingin menolong temannya yang di-bully, sang penolong tersebut malah menjadi sasaran korban bullying berikutnya dan beberapa yang tidak tahan memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lantas bagaimana?
Umumnya pelaku bullying suka “menyiksa” korbannya di depan orang banyak dan paling suka jika memperoleh perhatian lebih, karena memang mereka melakukan itu untuk mencari perhatian dan menunjukkan bahwa ia berkuasa. Jika hal itu terjadi, jangan memberikan perhatian yang diinginkan pelaku. Tunjukkan bahwa bullying sama sekali tidak keren dan tidak menyenangkan. Jika hal ini masih terus berlanjut dan rasanya mulai berlebihan, mintalah bantuan guru atau orang dewasa yang kamu percaya untuk menghentikannya pada saat itu juga.
Korban bullying biasanya akan merasa depresi dan berusaha semakin menjauhkan diri dari keramaian, agar dia tidak semakin larut dalam depresi dan melakukan tindakan yang berbahaya, salah satu cara bagimu untuk menolongnya adalah mendekatinya dan memberikan perhatian. Bisa pula kita mengajaknya bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler, supaya dia juga memperoleh kesempatan untuk bersosialisasi dan mengembangkan diri. Tak lupa, ajak pula ia untuk berkonsultasi dengan guru, orang tua atau orang dewasa yang mereka percayai, agar dapat sedikit meringankan bebannya.

Orang tua juga memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya bullying. Bagaimana caranya?
Orang tua hendaknya memberikan pemahaman pada anak tentang segala bentuk tindakan bullying, baik yang skala besar maupun kecil disertai cara untuk mengantisipasinya. Dengan pemahaman ini, anak akan mampu mengenali bentuk perilaku bullying, sehingga mereka bisa berusaha menghindarinya.
Sesibuk apapun orang tua hendaknya meluangkan waktu paling tidak 15 menit sehari untuk berkomunikasi dengan anak tentang segala hal yang berkaitan dengan kesehariannya, sekolahnya, teman-temannya dan perasaannya.

Mengajarkan anak untuk berempati. Dengan begini, anak akan lebih mengerti perasaan orang lain sehingga kemungkinan anak akan menyakiti atau mem-bully anak lain pun kecil.

Biarkan mereka berkreasi. Banyak orang tua yang menentang anaknya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Orang tua beranggapan, kegiatan seperti ini hanya membuang-buang waktu dan membuat kegiatan belajar menjadi terbengkalai, padahal kegiatan ini sangat berguna untuk meningkatkan bakat dan minat anak, ditambah lagi mampu meningkatkan kemampuan bersosialisasi, tentunya dengan catatan anak harus bisa membagi waktunya dengan baik dan berjanji bahwa kegiatan ini tidak akan mengganggu prestasi belajarnya.
Sekecil apapun tindakan bullying sama sekali tidak bisa dianggap remeh dan dibiarkan terus mengakar menjadi budaya yang berkembang di kalangan remaja. Kita mempunyai kemampuan untuk mencegah dan menghentikannya. So, tunggu apa lagi? Stop Bullying!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar